Selasa, 15 Mei 2012

Quality control


QC  di Kimia


1. QC Mindray
                “Serum control yang digunakan bernama spintrol. Serum control harus disimpan di dalam freezer dan Quality Control dilakukan setiap pagi. “
1)      Keluarkan serum control dari freezer, disimpan dulu selama 10 menit.
2)      Kemudian dilarutkan dengan aquabidest sebanyak 5 ml (memakai pipet volume)
 Digoyang-goyangkan sampai homogen (jangan dikocok), simpan 5 menit.
3)      Setelah disimpan, goyang-goyangkan lagi, lalu bagi-bagikan di cup kecil.
4)      Ambil satu cup, masukkan ke dalam tabung, diamkan 30 menit. (Alat dalam posisi ready)
5)      Serum control masukkan ke dalam rak sampel di posisi yang sudah ditentukan.
6)      Melakukan QC.
 - Klik parameter yang akan di QC
 - Klik OK. (running)
 - Tunggu sampai hasil QC keluar
 - Hasil samakan dengan Range 2 SD
 - Hasil yang sudah ada, lihat di buku QC (ini untuk mengecek ada tren atau tidak)

2. QC untuk Elektrolit
1)      Hidupkan alat
2)      Siapkan serum control
3)      Masukkan 200 µl ke dalam tabung khusus elektrolit
4)      Lalu masukkan ke dalam alat
5)      Tekan test
6)      Tunggu hingga hasil QC keluar

"Materi ini didapat dari pembimbing saat aku PKL di Rumah Sakit. Terima kasih" 

Sekian dulu pembahasan kita kali ini, dan di akhir acara saya ingin mempersembahkan sebuah lagu, “DoReMi”. Lagu ini khusus buat teman-teman yang mau tes. Ayo, nyanyikan bersama-sama…!! 
Do – Do’akan aku ujian
Re – Relakan aku belajar
Mi – Misalnya aku remidi
Fa – Fastikan ku tetap tersenyum
So – Soal nyontek sudah biasa
La – Lama-lama ketagihan
Si – Siapa yang mau jujur
Do – Do’aku untukmu slalu..

..^_^..

Hujan Membawa Rindu





Ijinkan aku mengurai sebuah kisah, ini adalah kisah nyata tentang seorang gadis kecil yang baru duduk di kelas 1 bangku Sekolah Menengah Pertama. Betapa bahagianya ia dan ayah ibunya ketika ia berhasil masuk ke sekolah favorit di kotanya. Gadis kesayangan keduaorangtua yang akan menjadi kebanggaan ayah ibunya di dunia dan akhirat.
Siang itu pukul 13.30 (tepat di tahun 2003) seperti biasa bel sekolah berbunyi, terdengar tawa riang siswa-siswi keluar kelas. Namun, siang itu hujan turun deras hingga menghentikan langkah siswa untuk segera pulang, begitu pula dengan gadis kecil berjilbab biru itu. Ia duduk di koridor sekolah sambil memandang tetesan air hujan dan hiruk pikuk suasana di sekolah.

Ada beberapa siswa yang pulang naik becak dan banyak pula yang dijemput oleh orantua mereka. Gadis kecil itu masih terdiam di tempatnya, ia tak ikut bersama teman-temannya untuk pulang naik becak, baginya ongkos becak lebih berharga jika ditabung saja. Namun setelah menunggu lama ternyata hujan tak kunjung reda. Entah mengapa sang gadis ingin sekali cepat sampai di rumah, akhirnya ia memutuskan untuk berlari menghadang hujan.
Ia harus berlari ke depan, sebab tak ada angkutan kota yang ia tuju melintas di depan sekolahnya. Kaki kecilnya berlari, hujan siang itu seolah memberi kekuatan padanya untuk segera pulang. Di dalam angkot ia hanya memandang keluar jendela berharap hujan segera reda.

Alhamdulillah ketika angkot sudah sampai, hujan pun mulai reda meski gerimis masih setia menemani. Turun dari angkot ia masih harus berjalan kaki menuju rumahnya yang berjarak +/- 50 meter. Saat ia tengah berjalan menuju rumahnya, ia merasa ada yang tidak biasa. Entah mengapa ia merasa tetangga-tetangga memandang berbeda pada dirinya, namun perasaan itu segera ditepisnya.

Tiba di depan rumah, ia melihat bibinya tengah menggendong keponakannya. Gadis kecil itu menyalami bibinya dan menggoda keponakan yang berada di pangkuan bibinya. “De, masuk dulu lalu segera ganti baju ya..” ucap bibinya. Ia segera masuk rumah dan mengucapkan salam, tak ada siapa-siapa di rumah, ia pun bergegas ke kamarnya.
Setelah berganti pakaian, tiba-tiba ada yang mengetuk kamarnya. Saat pintu dibuka rupanya tetangganya yang mengetuk, ia tersenyum sebentar tak lama kemudian tetangganya tiba-tiba langsung memeluknya dan berucap lirih di telinganya. “De, yang sabar ya.. Bapak sudah meninggal…”

Saat mendengar berita itu, tak mampu ia berucap kata-kata selain ucapan, “Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un…” air matanya pun menetes membasahi pipinya. Ia segera sadar bahwa ibunya tak ada di rumah, hingga dari luar tetangga yang lain datang dan mengantar sang ibu yang sedang menangis. Ia tak tahan melihat ibunya, namun ia berusaha tetap tegar dan kuat agar tak menambah kesedihan di wajah ibunya.

Tetangga mulai berdatangan, sementara gadis kecil itu duduk termenung di kursi tamu, air matanya sudah tak jatuh lagi ia berusaha untuk menguatkan diri. Tak lama kemudian ibunya datang menghampiri, memeluk dan mencium pipinya. “De, ayah sudah tiada tetap tabah ya..” ucap ibunya lirih. Mata gadis itu kembali berair, dalam hatinya ia bertekad untuk tegar dan ingin membahagiakan ibunya.
Ayahnya meninggal pukul 11.00 siang tadi di Surabaya tempatnya bekerja, jenazahnya akan tiba esok dini hari. Sambil menanti jasad ayah tercinta, gadis kecil terus berdo’a dalam hati untuk ayahnya, setiap waktu ia isi dengan membaca Al-Qur’an.

Dini hari itu, sebuah mobil ambulans berhenti di depan rumahnya mengantarkan jenazah ayah sang gadis. Untuk terakhir kalinya gadis kecil itu menatap wajah ayah tercinta dalam balutan putihnya kain kafan. Ia duduk di samping jasad ayahnya sambil memegang mushaf Al-Qur’an, lisan kecilnya mengalunkan ayat-ayat cinta Robbnya.
 “Selamat jalan ayah, aku pun kelak kan menyusulmu. Ku do’akan slalu semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan menempatkanmu di Syurga-Nya.. Amin,” senyum manis pun terlihat di wajah kecilnya.
***

Sahabatku, semoga kisah dari gadis kecil ini bisa kita ambil hikmahnya, betapa mudah bagi Allah menghentikan denyut nadi seseorang dan tak seorang pun tahu kapan ajalnya kan tiba, maka persiapkan dirimu untuk bekal saat bertemu dengan-Nya.

Selain itu, begitu besar kasih sayang Allah pada sang gadis, hingga ia uji di usianya yang baru beranjak remaja, sehingga menjadikannya tangguh tuk arungi kehidupan. Betapa besar pula kasih orang tua untuk anak-anaknya, maka duhai sahabatku, bagi yang masih memiliki ayah dan ibu sayangilah mereka, bahagiakan hatinya dengan engkau berbakti pada keduanya selagi mereka masih ada di sisimu. Sebab ketika Allah telah memanggilnya, tak ada lagi ayah yang slalu memberimu nasihat, tak ada lagi ibu yang selalu menantimu saat kau pulang ke rumah. Manfaatkan kesempatan itu duhai sahabatku.

Bagi engkau yang ayah atau ibunya telah tiada, jangan bersedih. Tegarlah layaknya gadis kecil dalam kisah di atas, seperti yang ia tekadkan bahwa kelak kita pun akan menyusul mereka dan berharap menjadi jalannya menuju Syurga. Tetap do’akan keduanya, yakinlah bahwa mereka sangat mengharapkan do’a tulus dari anak-anaknya yang sholeh.
Terima kasih sahabatku.. :)

Rabu, 22 Februari 2012

"Vampir" Rumah Sakit

Mentari di Atas Langit Rumah Sakit

Part 1 : “Vampir” Rumah Sakit
Hari ini adalah hari pertamaku Praktik Kerja Lapangan (PKL).  Aku bersama teman-teman analis kesehatan, jumlah kami enam orang. Alhamdulillah kami mendapat lahan PKL di Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Tasikmalaya, teman-temanku yang berlima mereka satu kelas sedangkan aku kelas B satu orang, semua teman sekelasku PKL di luar kota ada yang di Ciamis, Kuningan, Bandung, Banjar, Purwokerto, Banyumas daerah Jawa Tengah. Aku yakin, rencana Allah selalu indah dan pasti ada hikmah dari semua kejadian, aku bisa lebih mengenal teman-teman di kelas A sehingga membangun komunikasi baru dan bisa mendapat pengalaman dari teman-teman di luar kota.
Tugas pertamaku pagi ini adalah ‘sampling’ bersama petugas dari Ruang Anak. Sebenarnya aku tidak sulit mencari ruang RAB, sebab dulu pernah menjelajahi sudut-sudut di Rumah Sakit ini, namun statusku sekarang mahasiswi yang sedang praktik bukan penunggu pasien lagi dan tentunya harus bisa menyesuaikan diri dengan pegawai RS. Ketika masuk ruang anak, aku diajak pembimbingku yang bernama Pak Agus untuk melihatnya mengambil darah dari seorang bayi. Aku terharu melihat keadaan si bayi, tubuhnya pucat semua, pernafasannya dibantu oksigen, kepalanya diperban, kondisi bayi tengah tertidur. Ketika diambil darah dari bagian pahanya dia tidak terbangun ataupun menangis, namun kulihat dari raut wajahnya tampak bayi tak berdosa ini kesakitan. Aku tak tahu ia sakit apa, semoga cepat disembuhkan.
Selain di ruang anak, aku juga diajak untuk berkeliling ruangan mengambil sampel darah dari pasien dewasa. Ruang pertama yang aku masuki itu adalah tempat dulu ibuku dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Saat aku memasuki kamar itu, hatiku bergetar terbayang dalam benak sosok lemah tak berdaya itu terbaring di atas tempat tidur, aku masih merasakan pelukan terakhirnya, dan dinding-dinding putih ini menjadi saksi kesyahidannya melawan rasa sakit. Ya Allah, tempatkan ibu dan ayahku di Syurga-Mu. Saat itu aku bertahan untuk membendung air mata agar tidak menetes.  
Pak Agus mengajariku bagaimana mengambil darah yang benar, dan aku diberi kesempatan untuk mengambil darah beberapa pasien. Aku sudah sering mengambil darah teman-temanku saat praktikum di kampus, tapi untuk mengambil darah pasien sesungguhnya belum pernah. Dengan sabar Pak Agus menuntunku, perlahan aku menusukkan jarum ke pembuluh vena seorang ibu. Ketika mulai kutarik spuitnya, darahnya tak mau naik, hm, ternyata jarumnya menggeser dari vena, Pak Agus menenangkanku agar tidak panik, aku disuruh untuk melepas jarumnya, ibu itu terlihat kesakitan. Luka bekas tusukan jarum segera ditutup kapas dan dengan cekatan Pak Agus kembali mengambil spuit yang baru untuk segera mengambil kembali darah. Setelah selesai, akhirnya aku bisa mengambil nafas lega, sedikit dag-dig-dug juga, tapi Pak Agus membelaku karena ini pertama kalinya aku mengambil darah pasien, dia pun kembali menjelaskan cara mengenal vena untuk phlebotomy.
Perjalanan kami berlanjut, masih ada delapan sampai sepuluh pasien lagi yang harus diambil darahnya. Hari ini kami benar-benar menjadi “vampir” Rumah sakit,  he.. Aku ditawari kembali untuk mengambil darah pasien, Pak Agus meyakinkanku. Baiklah kali ini aku pasti berhasil! Sekarang targetku adalah seorang bapak paruh baya, tubuhnya yang lemah seolah pasrah darahnya akan kuambil. Perlahan jarum itu kutusukkan ke pembuluh venanya, lalu kutarik spuit perlahan hingga 5 cc, dan akhirnya,,, dapat!! Aku berhasil mendapatkan darah, terima kasih Ya Allah. Setelah berhasil mengambil satu darah pasien, aku menjadi lebih sering ditawari untuk mengambil darah. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar meskipun masih dag-dig-dug, tapi aku senang berhasil mengambil darah dari beberapa pasien.
Perjalanan terakhir kami adalah menuju ruang bayi baru lahir. Saat kakiku melangkah masuk, aku seolah berada di dunia bayi! Terdengar beberapa tangisan dari bayi-bayi mungil itu, duuh, lucunya, ditambah lagi aku senang pada anak kecil. Kuamati satu persatu bayi itu, kebanyakan adalah bayi yang baru lahir, tapi ada juga bayi yang masuk inkubator, mereka semua adalah para pembaharu bangsa ini, semoga dijadikan sholeh dan sholehah, Amin.
Saat aku tengah asyiknya mengamati bayi-bayi itu, tiba-tiba Pak Agus mengagetkanku, dia menawari untuk mengambil darah seorang bayi. Masya Allah, meski sebenarnya aku tidak tega, tapi aku harus melakukannya sebagai bekal jika bekerja kelak. Kini seorang bayi lucu yang tengah tertidur menjadi target terakhirku hari ini. Pengambilan darah untuk bayi melalui bagian femoralis, tangan kiriku harus memegang erat kaki bayi yang masih mungil itu agar ia tidak meronta, sedangkan tangan kananku memegang spuit. Saat jarum itu menusuk kulitnya, sang bayi terbangun dan menangis kesakitan, segera kutarik spuitnya dan perlahan darah segar itu masuk ke dalam spuit. Setelah selesai mengambil darah, segera kututup luka tusukannya dengan kapas, kucoba menenangkan sang bayi, cup-cup-cup… sayang,, jangan menangis, dan tak lama kemudian bayi itu kembali terlelap.
Setelah selesai berkeliling, kami menuju laboratorium untuk memeriksakan hasilnya. Fuiih,, Alhamdulillah, sungguh perjalanan yang luar biasa hari ini. Aku telah mendapatkan banyak pengalaman dan hikmah yang begitu berharga. Di sini aku telah menemukan kondisi pasien dengan beragam penyakit. Segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesehatan untuk tetap merasakan nikmatnya beribadah dan bekerja keras. So, ingat lima perkara sebelum datang lima perkara, salah satu diantaranya, sehat sebelum sakit. Ayo kawan, manfaatkan waktumu sebelum datang ajalmu, karena kita tak pernah tahu kapan Allah akan mengambil nyawa kita, bisa jadi pembaca duluan ataupun saya belakangan,, lho?! He..
Jazakumulloh khoir… Semoga esok kan lebih baik! ^_^
Tasikmalaya, 20 Februari 2012

Senin, 28 November 2011

Mentoringku

Curhat Mentoringku
Mentoring itu mengasyikkan kawan! Kalau hati sedang gundah maka mentoringlah obatnya, atau ketika seharian ini kita disibukkan dengan segala aktivitas di kampus, maka berkumpul dengan teman-teman dalam lingkaran mentoring bisa mengistirahatkan pikiran sejenak.. Entah mengapa setiap selesai mentoring, hatiku jadi lapang, mungkin itulah buah silaturahim. Kita pun bisa merecharge kembali hati yang mulai redup selama sepekan penuh bertemu dengan berbagai tantangan baru.  Aku selalu rindu berkumpul dengan teman-teman kelompokku, terutama rindu mendengar nasihat pementorku tersayang. Jika ingat pementorku, rasanya kami jadi malu, beliau slalu setia menunggu kami dengan kesabaran, sabarmu menjadi peneguh langkah kami duhai pementorku.. Terima kasih Allah telah menitipkan ilmu-Mu pada pementor kami hingga kami mendapat sejuknya nur kasih-Mu.. Duhai Allah kuatkan kami untuk tetap menjaga hidayah yang telah Engkau berikan dan anugerahkanlah kesehatan pada pementor yang telah menjadi kakak sekaligus guru kehidupan bagi kami serta kumpulkan kami kembali kelak di Syurga-Mu.. Amin…

Pelangi Ukhuwah


Sahabat…
Mungkin sisa hujan kemarin sore masih menyisakkan sendu
Namun saat kulihat senyummu, hilanglah dukaku
Bawa pergi semua lara dan gundah di hati
Ku ingin tetap seperti ini berangkulan bersamamu
Hingga kelak kita temui hadiah terindah dari Allah
Sahabat…
Rasanya baru kemarin kita tempuh perjalanan ini
Melangkah bersama dalam balutan ukhuwah
Meski cobaan datang menerpa silih berganti
Hadirnya kau di sisiku menguatkan pijakanku
Dan Allah pasti cinta padamu
Selamat berjuang teman…
Yakinlah pada janji-Nya yang agung
Usai hujan terlukislah pelangi
Semoga Syurga yang kan kita raih...

_DMS_
“2 Muharam 1433 H”

Teman Perjuangan

Teman…
Langit hari ini begitu cerah
Bawa ketenangan dalam khusu’nya qalbu
Adakah kau di sana baik-baik saja?
Ku tahu meski dalam diam kau menjagaku
Ada kasih yang tersembunyi dari balik hati
Yang mampu menembus asaku asamu
Tahukah kau sahabatku?
Haru rasaku mengenangnya
Dalam sujud ku titip rindu untukmu
Berbalut kasih dari Illahi
Bawa segenggam cinta dan do’a
Untuk ku persembahkan pada-Nya
Semoga ukhuwah kan kekal selamanya
Hingga bertemu di pertemuan suci
Syurga yang dinanti...

_DMS_ 
“1 Muharam 1433 H”

Rabu, 27 April 2011

Berdiri, Melangkah, Berlari

Duhai Allah...
Apa Engkau mencoba menyatakan sesuatu kepadaku?
Karena...
Kegagalan bukan berarti aku tidak mencapai apapun
Tapi berarti aku telah belajar sesuatu

Kegagalan bukan berarti aku orang yang bodoh
Tapi berarti aku memiliki cukup iman untuk diuji

Kegagalan bukan berarti aku orang yang memalukan
Tapi berarti aku telah berani untuk mencoba

Kegagalan bukan berarti aku tidak memilikinya
Tapi berarti aku memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan cara yang berbeda

Kegagalan bukan berarti aku lebih rendah dari yang lain
Tapi berarti aku tidaklah sempurna

Kegagalan bukan berarti aku telah menyia-nyiakan hidupku
Tapi berarti aku memiliki alasan untuk memulai lagi

Kegagalan bukan berarti aku harus menyerah
Tapi berarti aku harus berusaha lebih keras lagi

Kegagalan bukan berarti aku tidak pernah berhasil
Tapi berarti aku butuh lebih banyak berlatih

Kegagalan bukan berarti ENGKAU telah meninggalkanku
Tapi berarti ENGKAU pasti memiliki rencana yang lebih baik bagiku...

Terimakasih Allah... Bantu aku berdiri,,, melangkah,,, berlari....

(Dari sahabat untuk sahabat-sahabatku...)